"Kang kapan sampean nikah..?" salah satu kawan nyeletuk. Dengan nada datar saya pun menjawabnya "belum ke pikiran.. hehehe... " dengan cepat dan sigap saya langsung mengalihkan topik ke yang lain.
Sebetulnya, ketika ditanya seperti itu, dalam hati kecil ini tidak bisa dibohongi untuk meng-iya-kan supaya bisa nikah cepat (baca: sebentar lagi). Sebab, teman yang lain hampir semuanya sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya dua anak.
Dari satu sisi, menikah itu memang sebuah solusi. Apalagi jika sudah siap (baca; mampu), maka menikah pun sangat dianjurkan. Tetapi bagi yang belum siap, menikah harus menunggu waktu yang tepat dan pas. Disunnahkan untuk berpuasa, jika belum mampu menikah.
Salah satu sahabat saya, ia sudah sangat serius untuk menikah muda. Meskipun kuliahnya belum selesai, dan baru tugas akhir. Sudah gerak cepat meyakinkan calon istri plus meyakinkan orang tuanya juga. Pokoknya, setelah ia wisuda langsung ijab qabul, itulah rencana yang saat ini ia buat.
Alhamdulillah sekali, orang tua dari perempuan sudah menyerahkan dan memberikan "golden ticket", semua saudaranya juga sudah pada tahu, tinggal minta doa restu dan ridhanya dari orang tua kandungnya saja. "Hebat betul dia itu, Beranian orangnya.." Saya mengakuinya.
Setelah coba saya pelajari. Akhirnya saya tahu kenapa ia bisa demikian (ingin nikah muda). Karena beberapa orang yang ia temuai dan yang jadi sahabat dekatnya, kebanyakan mereka menikah muda, sehingga dari sanalah semangat dan keinginan itu terbangun. Atau malah dikompor-kompori juga.
Bahkan, sepupunya kawan saya ini dulunya juga demikian. Malah mereka lebih sadis. Keduanya sama-sama anak kuliahan yang ambil jurusan kedokteran. Kedokteran dikenal dengan kuliah yang paling menguras tenaga, pikiran dan keuangan, tapi mereka yakin mampu melaluinya.
Kini mereka sukses, hidupnya senang dan tak kalah penting "dunianya" mereka berlimpah. Memang sih, perjuangan di awal sangat sulit. Tetapi karena ketekunan berdua dan sudah komitmen dengan pilihan mereka, akhirnya kini berakhir dengan bahagia. Kuncinya hanya satu, yaitu berani mengawali dan memulai.
Bahkan siang itu pun, dukungan untuk menikah ia dapatkan dari calon pamannya. Tadinya kami tidak sengaja bertamu ke rumahnya, tetapi karena kebetulan lewat rumahnya, kami pun menyempatkan diri untuk bersilaturahmi. Sebagaimana Sunnah nabi, agar usia dan rezeki selalu bertambah. Setelah ngobrol sebentar, "kode" itu diberikan.
Di rumah calon sang paman, banyak hal yang kami obrolkan, salah satunya tentang menikah muda. Dari percakapan itu saya memetik beberapa poin penting. Terutama persiapan yang harus disiapkan sebelum menikah. Syaratanya adalah S-3.
Hurus S yang pertama, Siap mengalami perubahan. Maksudnya adalah perubahan yang tadinya sendiri kini berdua dan selalu ada yang menemani. Jangan takut ketika bangun pagi ada seseorang disebelah kita. Perubahan yang tak kalah pentingnya adalah perubahan diri dari yang ke kanak-kanakan menjadi lebih dewasa dan lebih berwibawa.
Huruf S yang kedua, Siap menerima pasangan kita dengan apa adanya, bukan karena ada apanya. Kekurangan yang ada pada diri pasangan kita harus siap diterima, apapun itu. Jangan menikahi seseorang karena kelebihannya, sebab ketika kelebihan itu hilang pada dirinya maka kita kecewa. Tetapi jika kita menikahi seseorang berdasarkan kekurangannya tentu kita akan lebih mencintainya dengan apa adanya.
Huruf S yang ketiga, Siap memiliki keturunan. Karena cepat ataupun lambat maka kita akan memperoleh keturunan (anak). Dengan adanya keturunan itulah lengkap sudah kebahagiaan kita. Peran kita (laki-laki) tak lagi sebagai seorang suami, tetapi berubah menjadi seorang ayah untuk anak-anak. Di sinilah peran kita bertambah dan sangat diperlukan.
Semoga bermanfaat. [Amha]
___

0 Komentar