Rebo Wakasan

Asal katanya rebo pamungkasan --hari Rabu terakhir di bulan Safar, dalam hitungan kalender Hijriyah)-- kemudian disingkat menjadi rebo Wakasan 

Di kampung kami, biasanya ditandai dengan ngariung kupat (berdoa dengan membawa ketupat ke masjid/mushola). Selesai berdoa, ketupat dibagi rata dan disantap bersama. Sisanya dibawa pulang ke rumah.

Di tempat suami, biasanya ngariung pas malam hari bada shalat isya. Di kampung lain, ada juga yang diisi shalat Sunnah berjamaah sebelum berdoa bersama. Namanya shalat "lidaf'ilbalaa"

Kegiatan ini, bisa juga dimaknai sebagai ungkapan syukur. Sebab, selama bulan Safar semua berjalan normal, selamat, dan bebas, dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Masyarakat percaya, jika di Bulan Safar jumlah penyakit/bencana yang diturunkan lebih banyak dibanding bulan-bulan biasanya. Itulah kenapa di bulan ini, kami senantiasa diingatkan untuk terus waspada dalam segala hal. 
___

Posting Komentar

0 Komentar